Selasa , 17 Oktober 2017
Penting
Ciri – ciri Obat Kadaluarsa

Ciri – ciri Obat Kadaluarsa

idkesehatan.com-Sejak tahun 1979, FDA mewajibkan produsen obat untuk mencantumkan tanggal kedaluwarsa, baik obat generik maupun paten. Mayoritas konsumen tidak paham apa arti dari tanggal tersebut. Tanggal yang tercantum adalah batas waktu yang produsen jamin ketika obat tersebut masih ampuh. Meski begitu, jika sudah lewat tanggalnya, tidak berarti obatnya langsung tidak manjur atau berbahaya. Umumnya, tanggal kedaluwarsa tersebut adalah 12 hingga 60 bulan sejak diproduksi. Dalam banyak kasus, obat-obat yang sudah kedaluwarsa belum pernah diuji keefektifan atau potensi meracuninya.

Beberapa apoteker yang menuliskan peringatan untuk segera membuang obat bila sudah lewat tanggal yang ditetapkan. Biasanya, masa tersebut adalah satu tahun setelah obat itu dibuka dari kemasan. Aturan ini diwajibkan di 17 negara bagian, tapi sebenarnya masih sangat sedikit riset mengenai ini. Sangat mungkin kalau ada obat yang masih bisa diminum setelah 10 tahun lebih.

Kadaluarsa obat adalah kondisi obat bila konsentrasinya sudah berkurang antara 25-30% dari konsentrasi awalnya. Tanggal kadaluarsa adalah tanggal yang dipilih oleh pabrik yang memproduksi obat untuk menjamin potensi yang penuh dan keamanan dari obat sebelum tanggal kadaluarsa tersebut. Tanggal kadaluarsa bukannlah tanggal yang ditentukan oleh pemerintah maupun departemen kesehatan dan tanggal ini tidak menunjukkan berapa lama suatu obat layak untuk dikonsumsi. Obat dapat kadaluarsa sebelum tanggal kadaluarsa yang ditetapkan oleh pabrik ataupun masih dapat dikonsumsi meskipun sudah lewat beberapa tahun setelah lewat tanggal kadaluarsanya. Oleh karena itu kita perlu mengetahui tanda-tanda kadaluarsa obat untuk menghindari penggunaan obat yang kadaluarsa.

Penelitian obat kadaluarsa

Atas permintaan Departemen Pertahanan, FDA melakukan sebuah riset tentang usia obat-obatan yang umum dikonsumsi. Obat-obat itu disimpan dalam kondisi dan iklim yang normal, bukan dalam situasi yang lembab seperti di kamar mandi. FDA menguji seluruh persediaan obat Dephan sejak 1986 hingga 2006 untuk mengetahui apakah obat-obat itu sudah harus dibuang. Terdapat 122 jenis obat dalam 3.005 kelompok. Ternyata 88 persen dari 3.005 obat itu masih dapat diperpanjang tanggal kedaluwarsanya hingga rata-rata 66 bulan (5,5 tahun).

Apoteker tak akan menganjurkan pasiennya untuk mengonsumsi obat kedaluwarsa. Ia menyebut ada dua skenario terkait obat kedaluwarsa. Pertama, bila seseorang harus rutin minum obat seperti nitrogliserin atau insulin, maka obat tersebut wajib dijaga kualitasnya dan menghindari obat yang sudah kedaluwarsa. Situasi kedua, bila seseorang mengalami sakit ringan, seperti demam, sakit kepala, ataupun sakit pinggang. Tidak apa-apa bila Anda hanya punya obat kedaluwarsa di rumah. Masih aman untuk mengonsumsinya walaupun keampuhannya sudah tidak 100 persen.

Beberapa bentuk obat lebih awet dibanding yang lain. Yang paling stabil adalah tablet dan kapsul, tetapi obat berbentuk tablet paling awet. Obat cair atau yang harus dimasukkan ke lemari es paling cepat rusak dan dihindari pemakaiannya setelah tanggal kedaluwarsa. Tanda-tanda obat yang rusak antara lain berbau kuat, jika ada obat yang merembes ke luar atau terkristalisasi. Untuk menjaga daya tahan obat, setidaknya hingga tanggal kedaluwarsa, simpanlah di tempat yang kering, sejuk, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Pastikan juga botolnya tertutup rapat. Obat-obatan rusak sebenarnya aman untuk dibuang di tempat sampah. Namun, FDA menyarankan untuk membuangnya di kloset.

Tanda Obat kadaluarsa:

1. Padat, dapat berupa sediaan tablet, kapsul, pil dan serbuk. Umumnya mengalami perubahan berupa perubahan warna, bau, rasa dan konsistensinya. Tablet dan kapsul mudah menyerap air dari udara sehingga menjadi meleleh, lengket dan rusak. Kemasan mungkin menjadi menggelembung. Tablet berubah ukuran, ketebalannya dan terdapat bintik-bintik. Masing-masing tablet dalam kemasan ukurannya tidak sama dan tulisan pada tablet dapat memudar. Kapsul berubah ukuran dan panjangnya, mengalami keretakan dan warna kapsul memudar. Obat puyer akan menggumpal jika telah mengalami reaksi kimia.
2. Semisolid, dapat berupa sediaan salep, krim, pasta, dan jeli. Umumnya mengalami perubahan karena dipengaruhi oleh panas. Salep dan krim berubah konsistensinya dan dapat menjadi terpisah-pisah, bau dan viskositasnya berubah, melembut, kehilangan komponen airnya, tidak homogen lagi, penyebaran ukuran dan bentuk partikel tidak merata serta pH nya berubah.
3. Cair, dapat berupa sediaan eliksir, sirup, emulsi dan suspensi oral. Umumnya dipengaruhi oleh panas. Perubahannya dalam hal warna, konsistensi, ph, kelarutan, dan viskositas, Bentuk sediaan cair menjadi tidak homogen. Beberapa obat, seperti obat suntik dan tetes mata atau telinga, cepat rusak bila terkena sinar. Terdapat partikel-partikel kecil yang mengambang pada obat cair namun hal ini normal pada suspensi. Bau dan rasa obat berubah menjadi tajam seperti bleach, acid, gasoline, punguent. Tanda kadaluarsa obat cair diantaranya: Menjadi keruh atau timbul endapan, Kekentalannya berubah, Warna atau rasa berubah atau Botol plastik rusak atau bocor
4. Gas, contohnya oksigen. Aerosol mengalami kebocoran, kontaminasi partikelnya, fungsi tabungnya rusak dan beratnya berkurang. Jika diukur dosisnya maka terdapat perbedaan dosis.
5. Tablet Terjadinya perubahan warna, bau atau rasa. Kerusakan berupa noda, berbintik-bintik, lubang, sumbing, pecah, retak dan atau terdapat benda asing, jadi bubuk atau lembab. Kaleng atau botol wadah tablet rusak. Beberapa jenis tablet ada yang basah atau lengket satu dengan yang lainnya
6. Kapsul Perubahan warna isi kapsul. Kapsul terbuka, kosong, rusak atau melekat satu sama lain
7. Salep Warna berubah, Pot atau tube rusak atau bocor atau Bau berubah

sumber: InfoSehat

About Bayu Kusuma

Translate »