Sabtu , 23 September 2017
Penting
Masalah Pencernaan pada Bayi ASI dan MPASI

Masalah Pencernaan pada Bayi ASI dan MPASI

idkesehatan.com-Masalah pencernaan merupakan salah satu hal yang paling sering dialami bayi terutama di awal kehidupannya, dan bisa menimbulkan masalah medis lainnya jika tidak ditangani dengan baik. Kebanyakan masalah pencernaan pada bayi bukanlah masalah serius dan bisa disembuhkan tanpa intervensi tenaga medis.

Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi sistem pencernaan bayi, ada yang berhubungan dengan sang ibu dan ada pula yang berkaitan dengan bayinya sendiri. Kebanyakan sakit pencernaan pada bayi tersebut bisa dicegah atau disembuhkan. Karenanya, sangatlah penting bagi orangtua untuk tidak mengabaikannya dan memperoleh informasi yang benar. Pada dasarnya, pencegahan terjadinya penyakit pada bayi bisa dilakukan sendiri oleh orangtua, sedangkan untuk penyembuhan penyakit akan membutuhkan pertolongan dari dokter. Karenanya, artikel ini terutama akan membahas mengenai cara untuk mencegah sakit pencernaan pada bayi.

Pada bayi ASI

Lambung dan pencernaan bayi bisa bermasalah akibat asi yang tidak sehat. Hal ini mungkin terjadi pada ibu yang baru sembuh dari sakit di mana hal ini akan berpengaruh pada produksi asinya. Sebetulnya ada banyak penyebab gangguan pencernaan pada bayi yang lain, namun penyebab yang paling sering adalah proses penyusuan yang tidak benar.

Kecemasan berlebihan bisa mempengaruhi kualitas dan kuantitas asi yang diproduksi ibu. Kualitas asi yang rendah dan kuantitas asi yang kurang mungkin meningkatkan gas dalam perut bayi, membuat bayi rewel dan menangis terus, dan kadang bisa mengakibatkan kejang-kejang pada bayi. Umumnya perasaan gelisah ini bersifat sementara dan jika sudah diatasi, kualitas dan kuantitas asi untuk bayi seharusnya kembali seperti sedia kala. Selain itu, gangguan mental atau stres yang tiba-tiba dan terlalu berat kadang bisa menghentikan produksi asi secara permanen dan dalam hitungan jam.

 

Diet yang kurang sehat atau sesuai juga akan mempengaruhi kualitas asi, dan mengganggu pencernaan bayi. Pernah ada kasus bayi yang masih menyusui mengalami diare yang berkepanjangan tanpa ada penyebab yang jelas. Setelah pemberian asi dihentikan untuk sementara waktu dan bayi hanya diberi minum air putih, diarenya berhenti. Sang ibu memberikan asi kembali setelah beberapa waktu karena beranggapan diare anaknya berhubungan dengan sesuatu yang dimakannya beberapa waktu lalu. Namun, bayinya kembali mengalami diare. Setelah diteliti kembali, ternyata ada makanan dalam diet ibu yang menimbulkan alergi pada bayi. Begitu unsur alergenik tersebut dihilangkan sepenuhnya dari menu sehari-hari sang ibu, diare berhenti dan pemberian asi bisa dilanjutkan kembali.

Dengan cara yang sama, obat-obatan yang diminum ibu juga bisa mempengaruhi lambung anak melalui asi yang dikonsumsinya. Karena itu, ibu yang menyusui harus berhati-hati dan hanya mengonsumsi obat jika benar-benar diperlukan.

Lebih lanjut, kembalinya haid ibu sedikit banyak juga akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas asi, dan mungkin menimbulkan masalah pencernaan pada bayi. Seringkali menjelang datangnya haid ibu, bayi menjadi lebih rewel dan susah tidur, sering gumoh, dan pupnya menjadi lebih sering, encer dan berwarna kehijau-hijauan. Kondisi ini membaik sesudah haid selesai. Pada dasarnya, di bulan-bulan awal kembalinya haid bayi akan terkena dampaknya karena datangnya haid pasti akan mempengaruhi asi (baik kuantitas maupun kualitas nutrisi), tapi umumnya dampaknya akan berkurang setelah tiga atau empat bulan. Walaupun kandungan nutrisi pada asi sudah menurun, namun tetap bermanfaat untuk imun tubuh bayi. Jadi, ibu tidak perlu berhenti menyusui hanya karena kembalinya haid, kecuali kalau kesehatan bayi sangat terpengaruh.

Asi juga bisa berkurang kualitas dan kuantitasnya jika ibu mengandung bayi lagi. Selain itu, tetap menyusui mungkin bisa merusak kesehatan ibu. Karenanya, jika keadaan kesehatan ibu yang hamil tidak memungkinkan untuk melanjutkan pemberian asi, maka sebaiknya dihentikan dan bayi mulai diperkenalkan dengan makanan lain.

Umumnya bayi asi sedikit banyak akan mengalami adanya gas dalam perut, pup encer, dan muntah. Hal ini dikarenakan tidak adanya jeda waktu yang cukup untuk pencernaan di antara waktu makan sehingga susu dari perut langsung masuk ke usus besar tanpa sempat dicerna dulu dan akan menimbulkan efek samping. Selain butuh waktu untuk mencerna makanan, perut juga butuh waktu istirahat. Karenanya, ibu yang menyusui harus bisa mengatur jam makan bayinya.

Perut bayi asi termasuk sesudah disapih umumnya akan terpengaruh jika bayi sedang tumbuh gigi. Tapi hal ini justru baik karena bisa mencegah terjadinya infeksi yang lebih serius. Bahkan, diare yang terjadi pada saat tumbuh gigi bisa dibiarkan, kecuali jika diare bertambah parah, bantuan medis lebih lanjut mungkin dibutuhkan. Tumbuh gigi juga biasa disertai dengan gusi yang bengkak.

Periode penyapihan

Besar kemungkinan terjadi gangguan pada perut dan pencernaan anak pada masa-masa penyapihan, karenanya harus ditangani dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Umumnya, ada beberapa hal yang menyebabkan gangguan pada pencernaan selama proses penyapihan ini, diantaranya: penyapihan yang terlalu dini atau mendadak, atau pemberian makanan yang berlebihan dan tidak sesuai. Selain itu, terlepas dari proses penyapihan, iritasi yang dialami oleh bayi yang sedang tumbuh gigi pada periode ini juga dapat memicu diare.

Penggantian asi dengan makanan padat yang terlalu dini di mana sistem pencernaan bayi belum siap juga sering menjadi sumber penyebab masalah pencernaan bayi.

Bayi yang disapih terlalu dini, misalnya pada bayi usia 6 bulan ke bawah, besar kemungkinan akan menderita sakit perut dan pencernaan. Karena itu, bayi sebaiknya tidak disapih terlalu cepat kecuali jika keadaan tidak memungkinkan seperti ibu hamil lagi atau alasan lain yang tidak bisa dihindari.

Menyapih anak sekaligus dan langsung menggantikannya dengan makanan akan menimbulkan masalah pencernaan yang bervariasi. Berikut beberapa tips dalam melakukan penyapihan.

Pemberian makan dengan porsi yang terlalu besar atau terlalu sering akan membuat perut tertekan, lelah dan terganggu. Sebagian makanan mungkin akan dimuntahkan sedangkan sisanya yang tidak melalui proses pencernaan di lambung akan langsung menuju usus besar, dan mengiritasi lapisan selaput halus serta menimbulkan gas dalam perut disertai mencret, dan mungkin kejang-kejang.

Makanan yang tidak tepat dan tidak sesuai juga akan menimbulkan efek yang sama, dan kecuali perubahan diet dilakukan segera, pemberian obat bukan hanya tidak berpengaruh pada kondisi ini, penyebabnya juga akan terus berlanjut dan menimbulkan masalah yang lebih serius.

Oleh karena itu, untuk kebaikan sang anak pada periode penyapihan, ibu harus memastikan jenis dan jumlah makanan yang akan diberikan sebagai pengganti asi sudah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak. Pada hampir semua kasus masalah perut serius selama proses penyapihan, umumnya dikarenakan manajemen diet yang sembrono. Dibandingkan dengan penyebab lain, pemberian makan yang berlebihan dan bahan makanan yang tidak tepat seringkali berujung pada kecemasan dan kesusahan pada orang tua, dan bahaya dan kematian pada anak.

Iritasi yang disebabkan oleh proses tumbuh gigi yang sulit meningkatkan resiko diare pada periode penyapihan, terlepas dari proses penyapihan itu sendiri. Diare yang disebabkan oleh proses tumbuh gigi (menembus gusi dan mengakibatkan gusi bengkak dan meradang) tidak berbahaya dan bisa diabaikan, kecuali kalau diarenya parah, tidak kunjung sembuh, atau dikarenakan hal lain maka bantuan medis akan dibutuhkan. Begitu gigi bayi sudah tumbuh sepenuhnya, diarenya juga akan ikut berhenti, kecuali jika diarenya disebabkan oleh hal lain.

Salam Sehat idkesehatan.com

About Bayu Kusuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Translate »